Penulis Itu Pembaca Yang Baik



Anggapan jikalau pengin bisa menulis adalah dengan banyak-banyak membaca nampaknya belum bisa diterima. Bahkan bisa mendekati kurang tepat.

Mungkin, ketika Anda melihat orang yang ke mana-mana membawa buku, semisal di perpustakaan bawa buku, di warung kopi bawa buku, di halte bus baca buku, di stasiun dan di dalam kereta api baca buku, dan bahkan di toilet sekalipun misalnya, pasti Anda akan beranggapan bahwa orang tersebut akan lanyah dan enak saja jika disuruh untuk menulis. Sebab pustaka katanya telah banyak. Ia telah kenyang akan kosakata-kosakata, gaya bahasa, ide, dan imajinasi tinggi soal intrepetasi terhadap suatu hal.

Tapi itu hanya anggapan dan omongan para motivator belaka. Yang sesumbar akan dirinya yang bisa menulis dan menghasilkan banyak karya, ya maaf, meskipun tidak begitu menarik dan muatan manfaatnya kurang lebih biasa-biasa saja. Tapi parahnya hal itu sudah maklum. Maklum orang membuat karya yang biasa-biasa saja. Dan penikmatnya pun para kalangan maha biasa-biasa saja. 

"Banyaklah membaca! maka menulis akan mudah!" begitu slogan yang banyak diudarakan oleh para motivator menulis tersebut, yang hasil karyanya hanya main comot sana-sini dan tidak ada argumentasi penguat dari penulis sendiri. Generasi micin sih!

Dari sini saya akan menjelaskan, kenapa banyak membaca tidak melulu menjadikan seseorang mudah untuk menulis. Bermula dari sahabat saya yang sedang mengimani tugas akhir. Setiap pagi, pagi-pagi banget, sekitar pukul tujuh, dia sudah menghilang dari radar mata saya. Belakangan saya ketahui, dia sedang mengebut untuk mengerjakan skripsinya. 

Di hampir setiap pagi itu saya menyalami dia untuk sekedar memberi selamat dan semangat, tapi kalau pas saya tidak tidur. hehe. 

Saya akui dia seorang yang rajin. Di awal perjumpaan kami, sekitar tiga tahun yang lalu, gerak-geriknya selalu kuamati, mulai dari berpakaian, beribadah, makan, metode dia dalam belajar, bahkan ke WC, ya kalau kita sama-sama ngantri sih. Dan dari pengamatan tersebut, saya berkesimpulan bahwa dia anak rajin. 

Bahwa di setiap harinya, dan selalu pas di waktu petang, dia berani-beraninya membuka buku, membacanya, sampai ngantuk dengan kepala manggut-manggut. Itu setiap hari. Tanpa absen. Istiqomahnya ituloh yang bikin ngerii. 

Yang demikian itu dia lakukan dengan sendiri, mojok dan tanpa banyak bicara. "Dasar emang dia introvert sih" celetuk temanku. Dalam mengerjakan skripsi pun, ia sendiri. Sempat pernah kugoda "udah kaya pendekar saja, ke mana-mana sendiri", dan hanya senyum-senyum nyengir ia membalasnya. hadeh. Ya sudah tong, serah luh. 

Hingga pada akhirnya saya dikabari, "Jal, besok Rabu saya mau munaqosyah. Datang loh!". Saya sempat melongo, kaget dan membalas dengan gagap tapi ikhlas, "Shaap Ndan!".

Akhirnya saya datang di sidang skripsinya. Ruangannya sepi, hanya ada delapan orang, dua penguji, dia, saya, dan beberapa teman-temannya. 

Di sana, saya merasakan panas getirnya dibabat habis oleh para penguji. Sahabat saya malah nyengir berkali-kali ketika ditanyai oleh penguji. Nggak malah dijawab atau dibantah dengan tegas. Perdebatan kagak alot sama sekali. Damai. Dan selesai. 

Setelah itu, yang terjadi adalah dia harus revisi banyak. Revisi mayor! sebuah kalimat yang horor bagi mahasiswa tugas akhir. Sebab bisa-bisa dia harus ngulang dari awal, dan bahkan bisa ganti judul. 

Belakangan, saya dichat dimintai pertolongan supaya membantu merevisi skripsinya. Saya iyakan ajakan itu. Bukan karena tidak tegah, tapi mau bjimana lageeh, namanya sahabat. Tetap setia lah. hehe

Alhasil, saya baru tahu jika dia yang rajin, istiqomah membaca, dan koleksi bukunya banyak, tulisan skripsinya banyak yang salah. Entah itu salah ketik, pembahasaan, istilah, dan saya kira pemahamannya sendiri yang salah. Aduh dek. Ngenes!

Parah. Spontan saya geleng-geleng dan sedikit mendehem. Lah, kemarin-kemarin kamu bukannya sudah membaca banyak buku, referensi banyak, ide apa lagi. Tapi kenapa tulisanmu masih seperti ini? jelas, kata-kata itu tak kuucapkan langsung di depannya. Hanya membatin dan sedikit saya omongkan ke teman-teman yang lain. Duh. Maaf ya bat.

Kalau pun saya ucapkan, pasti dia hanya membalas dengan senyum-senyum nyengir lagi. Amboi. Sudahlah, sudahi saja. 


Karena sahabat saya itu, saya beranggapan jika orang yang gemar membaca tidak menutup kemungkinan dia tidak bisa menulis. Meskipun ia memiliki kelebihan rasa ingin tahu dan keajegan yang tinggi dalam membaca, ia belum tentu bisa menulis. Sebab membaca memiliki tidak hanya keseringan wajah kita menghadap kertas-kertas lusuh, melainkan sebuah kejelian, perasaan, analisis, dan bahkan kritis jika mampu (udah kayak rukun Islam kelima aja lu). heuheu

Selamat menjadi pembaca yang baik!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Sejarah, sampai Perkembangan Desa Bungah

Yang Halal Tapi Haram

Dzikir Saman di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik