Gejolak Amid Melawan Belenggu Doktrin
Oleh: Afrizal Qosim Sholeh*
Judul : Lingkar Tanah Lingkar Air
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I,
Agustus 2015
Tebal : 168 Halaman
ISBN : 978-602-03-1860-8
Seperti halnya karya Ahmad Tohari
yang lain, yakni Novel Kubah (2005)
yang mengangkat peristiwa pemberontakan PKI dan imbasnya. Demikian pula, Lingkah Tanah Lingkar Air, yang bisa
dibilang sebagai Novel perjuangan, penggugah patriotisme. Pasalnya, tema
pamungkas yang diangkat adalah peristiwa pergolakan perang mempertahankan
kemerdekaan RI antara tahun 1946-1950, yang merembet pada pendirian Negara
Islam Indonesia (NII) oleh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang
digencarkan oleh SM Kartosuwirjo pada tahun 1942-1962.
Pergolakan mempertahankan
kemerdekaan RI, oleh rakyat Indonesia, terutama kaum Santri, tidak terlepas
dari fatwa Hadratus Syaikh dari Jawa Timur.
Fatwa itu masyhur dikenal
dengan “Resolusi Jihad”. Beliau bilang,
berperang melawan tentara Belanda untuk mempertahankan negeri sendiri yang baru
merdeka, wajid hukumnya bagi semua orang Islam. Dan barang siapa yang mati
dalam peperangan melawan tentara Belanda yang kafir, dialah syahid. (Hlm.
24),
Sejak kecil, bersama Kiram, Amid
belajar mengaji serta ilmu silat pada Kiai Ngumar. Sampai di tahun 1946, dimana
umurnya menginjak 19 tahun. Ketika perlawanan
melawan penjajah masih menggebu-gebu. Setelah diberi fatwa oleh Kiai Ngumar,
Amid dan Kiram diminta oleh Kiai untuk ikut bergabung dengan balatentara di
Purwokerto. Pada mulanya, mereka berdua berangkat untuk membantu pasukan
Brotosewoyo yang sedang berusaha merintangi laju tentara Belanda di Bumiayu.
Implikasi fatwa Hadratusy Syaikh begitu
mengena di benak rakyat kaum santri. Banyak gerakan lahir dibidani fatwa
tersebut. Dan Amid, bersama Kiram, Jun, Jamal dan tetua Kang Suyud, bermusi
membentuk jaringan gerakan Hizbullah, yang nantinya, menjadi gerakan Darul
Islam yang berhasrat mendirikan negara
Islam.
Perang. Pertempuran berbuah
banjir darah.
Setelah era memerdekakan RI
berakhir, Amid bimbang. Barisan Hizbullah, tergolong gerakan non-negara.
Sementara itu, tentara Republik pro-negara menghimbau semua tentara/pejuang
supaya bergabung dengan tentara Republik.
Dari sini, derita batin Amid bergelora.
Kegelisahan, kebimbangan, dan alienasi, silih berganti hinggap di hati
nuraninya. Bagaimana tidak, adanya dua doktrin yang mewajibkannya untuk memilih
satu di antara dua tersebut. Pertama,
mengikuti kehendak Kiainya, ketika usai berperang melawan penjajah melalui
Hizbullah—yang fardhu dengan niat lillahi ta’ala—supaya “turun gunung”, kembali
mengabdi pada masyarakat atau ikut urun dengan tentara Republik. Serta
mengimani pemerintahan Soekarno-Hatta, dan patuh pada perintahnya.
Kedua, mengikuti gairah temannya Kang Suyud, yang tidak ingin
ada ideologi lain kecuali Islam dalam rancang-bangun negara. Doktrin Kang Suyud
juga, yang mengatakan pilihan “turun gunung” merupakan opsi yang paling hina
bagi para jihadis. Serta memilih
untuk bertahan dengan gerakan Darul Islamnya, daripada bermusi dengan tentara
republik yang kafir.
Amid dilematis.
Lagi pula, jeratan kemiskinan,
hidup susah, dan jeritan Umi, istri yang mengandung anaknya, yang lahir
dibidani Mbok Nikem. Oleh Mbok Nikem, anak Amid diberi nama Sri Srengenge.
Sebab lahir pada keadaan genting, tatkala Gerakan Siluman, Komunis, mencoba
menggrebek pos DI/TII di Hutan namun gagal. Sungguh, Amid berkata namun takdir Tuhan yang
berkuasa. Takdir tak mungkin dilawan. Ia adalah keniscayaan.
Alhasil, semua berjalan sesuai perintah Kiai
Ngumar, setelah Kang Suyud tiada. Akhir tahun 1962, Thoyib rekan laskar yang
bermarkas di Lereng Gunung Selamet datang membawa surat maklumat bertanda
tangan khalifah SM Kartosuwirjo, berisi
seruan agar semua anggota DI/TII meletakkan senjata dan menyerahkan diri ke
aparat keamanan dengan jaminan pengampunan nasional yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Republik Indonesia.(Hlm.143-144).
Mereka rujuk pada tentara
Republik ketika meskipun kemudian tiada
pula dalam keadaan Syahid, di medan Hutan Jati Cigobang tatkala memberantas
markas antek komunis di sana.
Begitulah, Ahmad Tohari dengan
keistimewaan ciri khas latar rural/pedesaannya. Serta metafora yang menggelitik
tatkala kita mampu mencernanya dengan apik, begitu kental melekat dalam novel
ini.
*Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar
Posting Komentar