Islam dan Spirit Kebangsaan
Semenjak
peristiwa pengeboman gedung WTC, New York, Amerika Serikat pada 11 September
2001 yang lalu, yang dilakukan oleh komplotan teroris yang diatasnamakan dari
golongan Islam, menjadikan gejolak konfliktual baru dalam kehidupan beragama di
Amerika Serikat. Bahkan juga dunia. Selain itu, peristiwa tersebut juga
menjadikan munculnya beberapa aliran transnasional dengan basis Islam sebagai
gerakannya mencoba melantunkan konsep “Negara Islam” dengan nyaringnya di
penjuru dunia.
Meskipun
isu terorisme bukanlah hal baru, namun terhadap paham itu, tetaplah tuntutan
untuk waspada selalu ditumbuhkan dalam diri masing-masing umat beragama.
Terutama Islam, sebagai agama yang kerap kali dinisbahkan terhadap paham
tersebut.
Secara
sosiologis, gejala konfliktual yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut adalah
berkurangnya nilai-nilai toleransi dalam kehidupan beragama di Amerika Serikat.
Kehidupan beragama menjadi sempit, hanya terbatas kepada golongannya. Sehingga
akses interaksi diantara penduduk antar Negara tercekal sebab nilai agama yang
eksklusif tersebut. Seolah-olah agama menjadi biangkeladi di antara beberapa
peristiwa konfliktual yang terjadi di berbagai penjuru dunia.
Yang
terbaru, peristiwa memilukan terjadi di Myanmar. Muslim etnik Rohingya dipaksa
keluar oleh pengikut agama Buddha dari Negara Myanmar, yang notabene basis
agama Buddha di Asia Tenggara, selain masih ada Thailand. Sehingga menjadikan
muslim etnik Rohingya terlantar di LautanPasifik, parahnya lagi, selain diusir
dari Negara asalnya, dibakar rumah huniannya, dan bahkan untuk dapat tempat
yang lebih aman pun susah. Negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia,
Singapura, dan Filiphina, enggan menerima dengan lapang kehadiran para Muslim
Rohingya untuk sekedar mengungsi, mencari tempat lebih aman demi mempertahankan
nyawa mereka. Banyak isu beredar mengenai terjadinya konflik tersebut, di
antaranya, mereka (pengikut Buddha Myanmar) takut, jika muslim menguasai
Myanmar, seperti yang terjadi dalam sejarah masuknya Islam masa silam di
Indonesia.
Definisi Agama
Nilai
religiusitas agama tersendat dengan beberapa peristiwa yang menjadikan agama
sebagai bingkainya. Seperti kedua peristiwa tersebut di atas, yang
menyalah-persepsikan pemahaman terhadap tafsir nilai-nilai agama sebagai ajaran
moral tentang kasih sayang. Secara umum, semua agama dalam ajaran teologis
mengajarkan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, pluralitas. Sehingga, meskipun
sifatnya eksklusif, jika pemahaman kita hadapkan kepada teologi antar umat
beragama, maka sulit atau bahkan mustahil ada sebuah pertentangan di antara
satu agama dengan yang lain.
Hanya
saja, oleh beberapa kalangan, ajaran substansial agama seperti itu lupa untuk
diimplementasikan dalam sebuah tindakan konkrit. Bahwasannya jika nilai
teologis, keyakinan tentang ajaran-ajaran dalam agama diwujudkan dalam sebuah
tindakan yang nyata dalam kehidupan beragama, maka sisi humanitas agama akan
menjadi garam, sebagai penyedap rasa antar umat beragama. Faktanya,
dehumanisasi masih menjadi wabah penganut agama saat ini. Sangat disayangkan juga,
ketika proses dehumanisasi tersebut hanya berakar pada hal sepeleh, seperti
perbedaan etnis, pandangan keagamaan, sengketa tanah, apologi politik nasional,
dst, dsb.
Lalu
apa yang dapat diambil dari proses beragama kita, dari proses peribadatan kita?
Jika hal-hal seperti tadi menjadi masalah pokok kerusuhan atau pertentangan
masyarakat di Indonesia saat ini. Amal dan ibadah kita sehari-hari terkesan
stagnan tanpa adanya upaya konstekstualisasi dini dalam meniatkan ihwal
beragama. Terutama Islam, agama Abrahamic dengan konsep pedagogis (baca:
Dakwah) dalam penyebaran awalnya, sekarang menjadi kambing hitam dalam setiap
peristiwa kekerasan atau familiar dikenal terorisme.
Langkah
perbaikan agaknya perlu digerakkan, dengan interpretasi kembali koreksi kepada
sejarah agama-agama di dunia, khususnya di Indonesia. Koreksi sejarah inilah
yang menghasilkan reintrepretasi kepada adiluhung nilai dalam setiap ajaran
agama—kasih sayang, romantisme.
Kemudian dibarengi de ngan mengangkat isu ke-indonesia-an sebagai pemersatu
umat beragama. Konteks ke-indonesia-an menjadi landasan fundamental selain
ajaran agama sebagai lem perekat umat di Indonesia. Walhasil, slogan sakti
Negara kita, yakni “Bhinneka Tunggal Ika” berbeda-beda tapi tetap satu, menjadi
mantra yang setiap hari akan dikumandangkan dan diingat oleh bangsa kita.
Sehingga untuk menuju “BaldatunThoyyibatunWaRobbunGhofur”
tidaklah sulit. WallahuA`laam.

Komentar
Posting Komentar