Islam dan Spirit Kebangsaan

Ahmad AfrizalQosim
            Semenjak peristiwa pengeboman gedung WTC, New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001 yang lalu, yang dilakukan oleh komplotan teroris yang diatasnamakan dari golongan Islam, menjadikan gejolak konfliktual baru dalam kehidupan beragama di Amerika Serikat. Bahkan juga dunia. Selain itu,  peristiwa tersebut juga menjadikan munculnya beberapa aliran transnasional dengan basis Islam sebagai gerakannya mencoba melantunkan konsep “Negara Islam” dengan nyaringnya di penjuru dunia.
            Meskipun isu terorisme bukanlah hal baru, namun terhadap paham itu, tetaplah tuntutan untuk waspada selalu ditumbuhkan dalam diri masing-masing umat beragama. Terutama Islam, sebagai agama yang kerap kali dinisbahkan terhadap paham tersebut.
            Secara sosiologis, gejala konfliktual yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut adalah berkurangnya nilai-nilai toleransi dalam kehidupan beragama di Amerika Serikat. Kehidupan beragama menjadi sempit, hanya terbatas kepada golongannya. Sehingga akses interaksi diantara penduduk antar Negara tercekal sebab nilai agama yang eksklusif tersebut. Seolah-olah agama menjadi biangkeladi di antara beberapa peristiwa konfliktual yang terjadi di berbagai penjuru dunia.
            Yang terbaru, peristiwa memilukan terjadi di Myanmar. Muslim etnik Rohingya dipaksa keluar oleh pengikut agama Buddha dari Negara Myanmar, yang notabene basis agama Buddha di Asia Tenggara, selain masih ada Thailand. Sehingga menjadikan muslim etnik Rohingya terlantar di LautanPasifik, parahnya lagi, selain diusir dari Negara asalnya, dibakar rumah huniannya, dan bahkan untuk dapat tempat yang lebih aman pun susah. Negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filiphina, enggan menerima dengan lapang kehadiran para Muslim Rohingya untuk sekedar mengungsi, mencari tempat lebih aman demi mempertahankan nyawa mereka. Banyak isu beredar mengenai terjadinya konflik tersebut, di antaranya, mereka (pengikut Buddha Myanmar) takut, jika muslim menguasai Myanmar, seperti yang terjadi dalam sejarah masuknya Islam masa silam di Indonesia. 
Definisi Agama
            Nilai religiusitas agama tersendat dengan beberapa peristiwa yang menjadikan agama sebagai bingkainya. Seperti kedua peristiwa tersebut di atas, yang menyalah-persepsikan pemahaman terhadap tafsir nilai-nilai agama sebagai ajaran moral tentang kasih sayang. Secara umum, semua agama dalam ajaran teologis mengajarkan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, pluralitas. Sehingga, meskipun sifatnya eksklusif, jika pemahaman kita hadapkan kepada teologi antar umat beragama, maka sulit atau bahkan mustahil ada sebuah pertentangan di antara satu agama dengan yang lain.
            Hanya saja, oleh beberapa kalangan, ajaran substansial agama seperti itu lupa untuk diimplementasikan dalam sebuah tindakan konkrit. Bahwasannya jika nilai teologis, keyakinan tentang ajaran-ajaran dalam agama diwujudkan dalam sebuah tindakan yang nyata dalam kehidupan beragama, maka sisi humanitas agama akan menjadi garam, sebagai penyedap rasa antar umat beragama. Faktanya, dehumanisasi masih menjadi wabah penganut agama saat ini. Sangat disayangkan juga, ketika proses dehumanisasi tersebut hanya berakar pada hal sepeleh, seperti perbedaan etnis, pandangan keagamaan, sengketa tanah, apologi politik nasional, dst, dsb.
            Lalu apa yang dapat diambil dari proses beragama kita, dari proses peribadatan kita? Jika hal-hal seperti tadi menjadi masalah pokok kerusuhan atau pertentangan masyarakat di Indonesia saat ini. Amal dan ibadah kita sehari-hari terkesan stagnan tanpa adanya upaya konstekstualisasi dini dalam meniatkan ihwal beragama. Terutama Islam, agama Abrahamic dengan konsep pedagogis (baca: Dakwah) dalam penyebaran awalnya, sekarang menjadi kambing hitam dalam setiap peristiwa kekerasan atau familiar dikenal terorisme.
            Langkah perbaikan agaknya perlu digerakkan, dengan interpretasi kembali koreksi kepada sejarah agama-agama di dunia, khususnya di Indonesia. Koreksi sejarah inilah yang menghasilkan reintrepretasi kepada adiluhung nilai dalam setiap ajaran agama—kasih sayang, romantisme. Kemudian dibarengi de ngan mengangkat isu ke-indonesia-an sebagai pemersatu umat beragama. Konteks ke-indonesia-an menjadi landasan fundamental selain ajaran agama sebagai lem perekat umat di Indonesia. Walhasil, slogan sakti Negara kita, yakni “Bhinneka Tunggal Ika” berbeda-beda tapi tetap satu, menjadi mantra yang setiap hari akan dikumandangkan dan diingat oleh bangsa kita. Sehingga untuk menuju “BaldatunThoyyibatunWaRobbunGhofur”  tidaklah sulit. WallahuA`laam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Sejarah, sampai Perkembangan Desa Bungah

Dzikir Saman di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik

Yang Halal Tapi Haram