Teliti
Ada satu bab dalam kehidupan yang
sering kita abaikan. Satu bab itu bernama ketelitian. Bab ketelitian ini,
seringkali kita tanamkan pada diri kita masing-masing. Sangat sering. Sampai
lupa, sebenarnya apa yang kita teliti dari ketelitian itu sendiri.
Misal, ketika kita hendak bepergian,
persiapan apa saja yang dibutuhkan dalam perjalanan telah coba kita ingat-ingat
betul, bahkan sampai dibuatkan draft list.
Sambil mempersiapkan barang yang tertulis dalam draft, sembari pula kita
mengingat-ingat terus dan terus mengingat, barang apa yang sekiranya butuh dan
masih belum terdaftar. Setelah semua dirasa lengkap dan tak menyisahkan satu
barangpun yang tertinggal, seketika itu, dalam keadaan demikian, dirasa tepat
untuk segera berangkat. Akhirnya berangkat. Kita berangkat tapi masih
menyisahkan kegundahan hati, kira-kira apa yang belum sempat terbawa. Fenomena
yang seperti itu menjadi momok yang sangat menakutkan. Benar saja, ketika
beberapa langkah keluar, kita menemukan satu bahkan lebih barang, sering
tertinggal. Lalu kita balik lagi mengambil barang tersebut. Melihat hal
tersebut, tak jarang, teman-teman yang melihat kegundahan kita, mengingatkan
dengan nada mengejek—membodoh-bodohkan kita, “Sudah? Sudah tak ada yang
tertinggal? Itu loh barangmu yang di belakang pintu.” Aih, padahal paham, jika
mereka mengejek, tapi tetap saja hal itu menjadi angan-angan dalam pikiran
kita. Membuat kita menambah pusing. Pusing yang tak henti-hentinya.
Demikian itu ketelitian, yang mulanya
adalah hal sepele. Sebab hanya memperhatikan satu atau dua bahkan lebih
barang/hal yang menyangkut pada kita. Mencoba menjadi teliti adalah keharusan.
Ketelitian akan membawa kita pada ketenangan, bukan kegelisahan ataupun
kegundahan.
Ketelitian terkadang hadir pada diri
orang yang tak terlalu sibuk meneliti orang lain. Sebab dia sibuk meneliti
dirinya sendiri. Artinya, dia menjadi prioritas dirinya sendiri. Bukan dia
memprioritaskan orang lain. Kita akan mengerti tentang pentingnya teliti ketika
kita tak teliti. Ah, sudahlah, mulai dari sekarang sering-seringlah meneliti
dirimu sendiri. Supaya menjadi pribadi yang baik. Baik ingatan, baik watak dan
perilakunya, baik terhadap sesama. Semoga.
Kurang teliti/ceroboh/keteledoran itu
bukan cobaan. Itu sebab kita yang kurang memperhatikan betul dengan baik segala
hal yang bermuara pada kepribadian kita. Hingga ada pula yang melabeli orang
itu sebagai orang yang kurang ceroboh, sembrono, tergesa-gesa, itu watak.
Ternyata, hal sepele itu nantinya akan menjadi watak. Akan menjadi cermin.
Cerminan bagi kita pun bagi orang lain. Telitilah dirimu sebelum meneliti orang
lain.

Komentar
Posting Komentar