Inkonsistensi

Sumber: www.diptara.com

Rencana tidak sama dengan realisasinya, itu hal biasa. Misal Sepakbola, seorang pelatih sebelum pertandingan, melalui surveinya dalam membaca taktik permainan lawan, mencoba menerapkan beberapa strategi yang sedikit-banyak berasumsi membawa timnya meraih kemenangan. Hal itu terjadi sebelum pertandingan dimulai.
Lain cerita jika pertandingan telah dimulai. Tidak lagi sedikit, tapi banyak, seorang pelatih akan menganalisis alur permainan, jika sangat berlainan dengan strategi semula, pelatih lalu merubah sedikit demi sedikit style permainan. Meski dirubah,  poros permainan dalam strategi pra-pertandingan itu masih ada. Sehingga tak sampai kacau visi dan misinya.
Sekuat tenaga, para pemain bekerja keras demi satu tujuan, kemenangan. Sampai peluit tanda pertandingan berakhir berbunyi, mereka—pelatih dan pemain—terus  saja berjuang dan berusaha. Bahkan cattenacio, filosofi permainan Italy, mengharuskan entah pelatih entah pemain, untuk mencurahkan segala kekuatannya sampai selesai. Ibarat ikut dalam peperangan, 90 menit itu pertaruhan antara hidup dan mati. Usaha tidak berhenti tatkala kita mencetak gol, tapi usaha akan terus berjalan sampai kita mampu menciptakan sejarah, victory. Lebih parah lagi, jika hati tidak akan menjadi salah satu opsi untuk meraih kemenangan. Sebab dia akan berhenti saat teriakan “kita harus menang”. Melainkan memaksimalkan potensi otak dalam bermain. Otak akan mengakses beberapa jaringan yang menyangkut pula ihwal hati, tangan, kaki, kepala, tangan, dan lain sebagainya. Alhasil, bukan tidak mungkin, jika daya dan upaya kita yang kita gerakkan lewat otak tersebut, akan menghasilkan anugerah yang tak sampai terpikirkan. Kita akan tertawa sendiri melihat kegigihan kita, melihat jerih payah kita, melihat dan meraba usaha kita dalam berperang. Sebelum inkonsistensi itu menjadi wabah.

Kehendak untuk berusaha itu, yang nantinya akan mendongkrak kebiasaaan inkonsistensi. Usaha akan bernilai jika kita mampu melanggengkannya, mengistiqomahkannya, mendawamkannya, sekaligus mendukungnya. Aih, inkonsistensi itu wabah yang hampir-hampir tak bisa kukalahkan. Tidak jarang, seringkali rasa iri dan dengki mencuat tatkala melihat mereka yang berdiri tegak, gagah, tegas, menantang wabah inkonsistensi. Tapi saya? Hanya mampu dikendalikan olehnya, yakni wacana agung perihal inkonsistensi. Allahummmaj’alna min ahlil istiqoomah. Amin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Sejarah, sampai Perkembangan Desa Bungah

Dzikir Saman di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik

Yang Halal Tapi Haram