Opini - Amanah Wakil Rakyat
Amanah Wakil Rakyat
Oleh: Ahmad Afrizal Qosim*
Masalah moralitas tidak kunjung larut. Malah berlanjut dan
berbuntut kepada masalah kehidupan lainnya. Sikap amoral menjadi konsen penting
dalam kehidupan modern saat ini. Perlu perhatian khusus.
Kehidupan zaman sekarang ditandai dengan keseluruhan lingkungannya yang
menjadikan aktor individual bersikap pragmatis, dengan kecenderungan mencari
keuntungan dengan menghalalkan segala cara yang
belum diharamkan. Perilaku menyimpang tidak lagi dianggap dan berlaku pada saat
ini. Semua berjalan wajar.
Di zaman yang dalam bahasa Ng. Ronggowarsito disebut “zaman yang
benar-benar edan”, Semua yang menyimpang dianggap biasa dan lumrah. Parahnya
lagi, sikap menyimpang dijadikan kebiasaan setiap individu dalam masyarakat di
zaman ini. Sebut saja koruptor, yang memainkan uang Negara berjuta-juta bahkan
bertriliunan rupiah tanpa menganggap dan mengamini bahwa perbuatan tersebut
salah dan sangat merugikan banyak pihak, termasuk individu koruptor itu
sendiri.
Dan lagi, kasus korupsi terbaru, yang memainkan dana pendidikan
yang diambil dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI. Jakarta.
Sungguh sangat merugikan. Apalagi kasus korupsi ini terjadi di DPRD yang
bersinergi dengan Kementrian Pendidikan D.K.I. Jakarta. Kementrian yang
seharusnya mengatur dan mendidik masyarakat menjadi masyarakat yang berbudi
luhur dan berpendirian baik, tentunya yang selalu menjunjung tinggi moralitas
bangsa. Sesuai dengan slogan pendidikan Indonesia “Ing Ngarso Sung Tulada,
Ing Madya Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani”. Dalam kalam tersebut, seorang
yang menjadi panutan harus memberikan teladan dan contoh yang baik kepada para
pengikutnya, dan pengikutnya mendapat dorangan dari yang menjadi teladan,
sehingga kebersatuan menjadi asas penting dalam kehidupan pendidikan yang baik.
Falsafah pendidikan ini menjadi penting, Menjadi candradimuka pendidikan bangsa
kita. Tapi kenapa kontekstualisasi tidak berfungsi dengan baiknya.
Pendidikan moral menjadi langkah awal demoralisasi. Dalam hal ini,
membangun kembali sikap yang sesuai dengan norma dan tata nilai yang berlaku
dalam masyarakat. Untuk memperbaikinya, para politisi yang menjadi publik figur
harus mencoba mereaktualisasi makna-makna pendidikan yang diperolehnya sejak
mulai dari bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi, bahwa perbuatan
tersebut sangat merugikan. Selain itu, pemahaman kembali kepada pancasila
sangat perlu. Pemahaman kepada pancasila dimulai dari sila pertama sampai sila
kelima menjadi dasar penting dalam perilaku kehidupan sehari-hari, apalagi ini
menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehidupan hajat orang banyak,
sehingga satu dirugikan semua juga ikut merugi.
*Mahasiswa
Jurusan Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar